Judul Buku : Diane Setterfield
Penerbit : G P U,
2008
Alih bahasa: Chandra Novwidya
Murtiana
***** (Lima Bintang)
Buku ini dari covernya saja
sudah bisa dibayangkan kalau ini buku yang gelap, sebuah dongeng (sesuai dengan
judulnya), dan ghotic. Satu lagi,
untuk cover yang Indonesia, saya langsung membayangkannya kalau ini novel
anak-anak yang gelap. Padahal... ini masuk dalam katagori NOVEL DEWASA lho, dan
sudah ada label ‘novel dewasa’ di kanan bawah back cover (haha, jadi hati-hati buat orangtua yang mau memberikan
bacaan ini buat anak-anak). Tapi yang ini dibahas nanti saja ya.
Memang, setelah membacanya (saya
butuh waktu sekitar seminggu), novel ini kental dengan elemen ghotic, suspense, misteri, dengan
beberapa tema yang kuat di dalamnya. Di novel debutnya ini, Diane Setterfield
memadukan beberapa inner konflik yang
kuat antara tokoh-tokohnya.
Mulanya pada tokoh aku (Margaret
Lea) yang datang dari keluarga aneh. Ibunya tampaknya tak bisa dekat dengannya,
bagai seseorang yang asing di hadapan anaknya sendiri. Sedangkan Margaret, dari
hari ke hari sejak ulangtahunnya yang ke sepuluh terisap pada kerinduannya
kepada saudara kembar. Si saudari ini meninggal tak lama setelah mereka
dilahirkan. Untunglah ada ayahnya, pria yang menyuburkan minat Margaret pada
membaca dan membaca. Mereka tinggal di sebuah rumah toko. Mereka hidup dari
berjualan buku-buku antik dan juga buku pelajaran sekolah. Namun sejatinya,
dari penjualan buku antiklah mereka hidup.
Kemudian, ada Vida Winter dengan
inner conflict-nya yang luar biasa. Seorang penulis hebat, yang telah ditulis
dalam puluhan artikel tentang kehidupan pribadinya. Namun, tak satu pun dari
artikel-artikel itu yang menceritakan kehidupan masa lalunya yang sama. Semua seperti
ceceran dongeng yang tak pernah sama, dan membuat Vida tetap sebagai manusia
yang misterius.
Nah, Margaret lantas bertemu dengan
Vida, atas permintaan sang penulis itu untuk menuliskan biografinya. Cerita yang
sebenarnya.
Novel ini, pada intinya adalah dongeng
dari sebuah proses penulisan biografi yang Margaret lakukan atas
wawancara-wawancaranya bersama Vida Winter. Tetapi karena ‘reputasi’ Vida di
kepala Margaret adalah dia tak bisa dipercaya begitu saja, maka Margaret melakukan
investigasi tersendiri. Dia harus mencari kebenaran dari semua kata-kata Vida, dari
bukti-bukti yang tersisa.
Membaca novel ini, membuat kita
tahu betapa beginilah seharusnya seorang penulis biografi. Bahkan dari sumber
pertama pun, kita tak semestinya benar-benar percaya. Penelusuran-penelusuran
fakta tetap harus dilakukan.
Itu dari sisi
suspense/misterinya.
Novel ini di satu sisi adalah
sebuah perayaan literasi. Sebuah persembahan dari seorang mania baca, untuk
semua orang yang suka membaca, dan juga para penulis. Margaret Lea—sama seperti
Dianne Setterfield—adalah seorang yang gila baca, khususnya buku-buku sejarah, dan
apapun yang berhubungan dengan orang-orang yang sudah mati. Nggak heran di
tengah membaca buku ini saya jadi merasa punya pe-er banyak untuk membaca
novel-novel yang Margaret dan Vida baca. Terutama Jane Eyre (huhu, padahal dulu
mau dipinjemin saya tolak karena kurang tertarik. Ya sudahlah. #curcol ih)
Novel ini juga sebuah tribut (ah
anggap saja demikianlah) buat semua anak kembar, terutama yang kehilangan
kembarannya. Dianne benar-benar mengajak pembaca menyelami kondisi kembar itu
dari sisi psikologi yang dalam, yang kelam. Bisa jadi selama ini kebanyakan orang
memandang kembar itu cuma dari sisi baik-baiknya saja, lucu-lucunya saja,
asyik-asyiknya saja. Padahal, intensitas hubungan kembar itu bisa demikian dalam,
sebuah kemanunggalan yang tak terpisahkan. Sehingga ketika dipisah, maka
menimbulkan goncangan.
Pada titik inilah baik Vida
Winter maupun Margaret Lea bertemu. Yakni dunia kembar dan perpisahan. Dianne menyuguhkannya
dalam keping demi keping yang menambah tanda tanya, namun penuh dengan twist
serta jawaban memuaskan di akhir cerita.
Oh ya, sudah disinggung di awal
tadi, ini NOVEL DEWASA. Hmm... ini karena ada beberapa skandal di dalamnya. Tetapi,
menurut saya sih, Dianne menuliskannya dengan lembut sehingga hampir tidak ada
yang demikian terang-terangan di sini. (Kecuali di satu adegan, dan dalam satu
kalimat) Pada usia berapa anak sebaiknya tahu soal (maaf) skandal inses? Selain skandal, konten kekerasan di dalamnya. Permainan-permainan
yang mengerikan dan tak sepatutnya pada sesama saudara. Tetapi, sebagai bacaan
dewasa, bagi saya novel ini lembut dan elegan.
Novel ini mengalir dengan asyik,
terjemahannya cukup bagus (hanya agak kurang sreg dengan kata ‘nrimo’ yang
sangat Jawa dan rasanya nggak masuk dengan suasana Inggris tempo doeloe. Jadi terasa
janggal. Tapi itu pun hanya satu kata kok, tenang saja).
Akhirnya... saya rekomendasikan
buku ini untuk: Semua penyuka suspense, misteri, ghotic, yang tertarik dengan
dunia kembar, dunia kepenulisan, dan sastra.
Dianne butuh waktu sekitar tiga
tahun untuk menuliskan novel luar biasanya ini. Dan saya cukup terlambat
membacanya ya. Setelah sekian lama, baru sempat membacanya. Biarlah, yang penting
kini satu penulis favorit saya bertambah.
Selamat membaca.... Akhir ceritanya
sungguh memuaskan. Saya suka sekali, dan ingin membacanya lagi, juga ingin
menonton filmnya yang sudah dibuat BBC2.
Oh ya, jika ingin membaca
wawancara dengan Dianne Setterfield, silakan klik di sini.
Sementara untuk review filmnya, bisa diklik di sini.

