Monday, May 9, 2016

The Thirteenth Tale, by Diane Setterfield – A Review




Judul Buku : Diane Setterfield
Penerbit      : G P U, 2008
Alih bahasa: Chandra Novwidya Murtiana

***** (Lima Bintang)

Buku ini dari covernya saja sudah bisa dibayangkan kalau ini buku yang gelap, sebuah dongeng (sesuai dengan judulnya), dan ghotic. Satu lagi, untuk cover yang Indonesia, saya langsung membayangkannya kalau ini novel anak-anak yang gelap. Padahal... ini masuk dalam katagori NOVEL DEWASA lho, dan sudah ada label ‘novel dewasa’ di kanan bawah back cover (haha, jadi hati-hati buat orangtua yang mau memberikan bacaan ini buat anak-anak). Tapi yang ini dibahas nanti saja ya.
Memang, setelah membacanya (saya butuh waktu sekitar seminggu), novel ini kental dengan elemen ghotic, suspense, misteri, dengan beberapa tema yang kuat di dalamnya. Di novel debutnya ini, Diane Setterfield memadukan beberapa inner konflik yang kuat antara tokoh-tokohnya.
Mulanya pada tokoh aku (Margaret Lea) yang datang dari keluarga aneh. Ibunya tampaknya tak bisa dekat dengannya, bagai seseorang yang asing di hadapan anaknya sendiri. Sedangkan Margaret, dari hari ke hari sejak ulangtahunnya yang ke sepuluh terisap pada kerinduannya kepada saudara kembar. Si saudari ini meninggal tak lama setelah mereka dilahirkan. Untunglah ada ayahnya, pria yang menyuburkan minat Margaret pada membaca dan membaca. Mereka tinggal di sebuah rumah toko. Mereka hidup dari berjualan buku-buku antik dan juga buku pelajaran sekolah. Namun sejatinya, dari penjualan buku antiklah mereka hidup.
Kemudian, ada Vida Winter dengan inner conflict-nya yang luar biasa. Seorang penulis hebat, yang telah ditulis dalam puluhan artikel tentang kehidupan pribadinya. Namun, tak satu pun dari artikel-artikel itu yang menceritakan kehidupan masa lalunya yang sama. Semua seperti ceceran dongeng yang tak pernah sama, dan membuat Vida tetap sebagai manusia yang misterius.
Nah, Margaret lantas bertemu dengan Vida, atas permintaan sang penulis itu untuk menuliskan biografinya. Cerita yang sebenarnya.
Novel ini, pada intinya adalah dongeng dari sebuah proses penulisan biografi yang Margaret lakukan atas wawancara-wawancaranya bersama Vida Winter. Tetapi karena ‘reputasi’ Vida di kepala Margaret adalah dia tak bisa dipercaya begitu saja, maka Margaret melakukan investigasi tersendiri. Dia harus mencari kebenaran dari semua kata-kata Vida, dari bukti-bukti yang tersisa.
Membaca novel ini, membuat kita tahu betapa beginilah seharusnya seorang penulis biografi. Bahkan dari sumber pertama pun, kita tak semestinya benar-benar percaya. Penelusuran-penelusuran fakta tetap harus dilakukan.
Itu dari sisi suspense/misterinya.
Novel ini di satu sisi adalah sebuah perayaan literasi. Sebuah persembahan dari seorang mania baca, untuk semua orang yang suka membaca, dan juga para penulis. Margaret Lea—sama seperti Dianne Setterfield—adalah seorang yang gila baca, khususnya buku-buku sejarah, dan apapun yang berhubungan dengan orang-orang yang sudah mati. Nggak heran di tengah membaca buku ini saya jadi merasa punya pe-er banyak untuk membaca novel-novel yang Margaret dan Vida baca. Terutama Jane Eyre (huhu, padahal dulu mau dipinjemin saya tolak karena kurang tertarik. Ya sudahlah. #curcol ih)
Novel ini juga sebuah tribut (ah anggap saja demikianlah) buat semua anak kembar, terutama yang kehilangan kembarannya. Dianne benar-benar mengajak pembaca menyelami kondisi kembar itu dari sisi psikologi yang dalam, yang kelam.  Bisa jadi selama ini kebanyakan orang memandang kembar itu cuma dari sisi baik-baiknya saja, lucu-lucunya saja, asyik-asyiknya saja. Padahal, intensitas hubungan kembar itu bisa demikian dalam, sebuah kemanunggalan yang tak terpisahkan. Sehingga ketika dipisah, maka menimbulkan goncangan.
Pada titik inilah baik Vida Winter maupun Margaret Lea bertemu. Yakni dunia kembar dan perpisahan. Dianne menyuguhkannya dalam keping demi keping yang menambah tanda tanya, namun penuh dengan twist serta jawaban memuaskan di akhir cerita.
Oh ya, sudah disinggung di awal tadi, ini NOVEL DEWASA. Hmm... ini karena ada beberapa skandal di dalamnya. Tetapi, menurut saya sih, Dianne menuliskannya dengan lembut sehingga hampir tidak ada yang demikian terang-terangan di sini. (Kecuali di satu adegan, dan dalam satu kalimat) Pada usia berapa anak sebaiknya tahu soal (maaf) skandal inses?  Selain skandal, konten kekerasan di dalamnya. Permainan-permainan yang mengerikan dan tak sepatutnya pada sesama saudara. Tetapi, sebagai bacaan dewasa, bagi saya novel ini lembut dan elegan. 
Novel ini mengalir dengan asyik, terjemahannya cukup bagus (hanya agak kurang sreg dengan kata ‘nrimo’ yang sangat Jawa dan rasanya nggak masuk dengan suasana Inggris tempo doeloe. Jadi terasa janggal. Tapi itu pun hanya satu kata kok, tenang saja).
Akhirnya... saya rekomendasikan buku ini untuk: Semua penyuka suspense, misteri, ghotic, yang tertarik dengan dunia kembar, dunia kepenulisan, dan sastra.
Dianne butuh waktu sekitar tiga tahun untuk menuliskan novel luar biasanya ini. Dan saya cukup terlambat membacanya ya. Setelah sekian lama, baru sempat membacanya. Biarlah, yang penting kini satu penulis favorit saya bertambah.
Selamat membaca.... Akhir ceritanya sungguh memuaskan. Saya suka sekali, dan ingin membacanya lagi, juga ingin menonton filmnya yang sudah dibuat BBC2.

Oh ya, jika ingin membaca wawancara dengan Dianne Setterfield, silakan klik di sini.
Sementara untuk review filmnya, bisa diklik di sini.